Kursi Panas Liga Inggris: Sejumlah Manajer Hadapi Tekanan di Awal Musim, Lampard Paling Berat
Jumat, 18 September 2026 | 09:53
Penulis: Arif S

Liga Inggris 2026/27 baru berjalan empat pertandingan, tetapi atmosfer di sejumlah kursi pmanajer sudah mulai terasa panas. Perubahan cara klub-klub Inggris mengelola tim menempatkan posisi manajer tidak lagi sekuat era ketika mereka memiliki kendali penuh atas hampir seluruh keputusan sepak bola.
Perubahan itu sudah berlangsung selama beberapa musim dan semakin terlihat pada musim panas 2026. Klub-klub Premier League kini lebih banyak menggunakan struktur manajemen sepak bola dengan pembagian tugas antara manajer, direktur olahraga, dan jajaran eksekutif.
Dampaknya terasa pada stabilitas posisi manajer. Dari 20 manajer Premier League musim ini, hanya Mikel Arteta yang telah menangani klubnya selama lebih dari empat tahun. Hanya sembilan manajer yang sudah berada di posisinya setidaknya selama satu tahun. Sementara separuh dari pelatih saat ini bahkan belum genap 200 hari bekerja.
BACA JUGA
Zion Suzuki Ukir Sejarah, Kiper Jepang Pertama di Liga Inggris dan Liga Champions
Liga Inggris 2026/2027: Manchester City Rombak Lini Tengah, Arsenal Datangkan Bruno Guimaraes
Liga Inggris: Mohamed Salah Cetak Gol, Liverpool Tetap Takluk di Kandang Wolves
Michael Carrick menjadi salah satu contohnya. Ia baru ditunjuk sebagai manajer permanen Manchester United pada akhir Mei, tetapi masa kerjanya sudah lebih panjang dibandingkan separuh pelatih Premier League lainnya.
Musim lalu menunjukkan betapa cepat perubahan terjadi. Sebanyak 10 manajer kehilangan pekerjaan sepanjang musim, kemudian enam manajer lainnya meninggalkan klub setelah kompetisi berakhir.
Dengan situasi itu, pembahasan mengenai kursi panas mulai muncul meski musim baru berjalan singkat. Empat pertandingan memang belum cukup untuk menentukan masa depan seorang manajer, tetapi hasil awal sudah memberikan gambaran mengenai klub-klub dengan tingkat tekanan berbeda.
Di salah satu ujung spektrum terdapat Mikel Arteta. Manajer asal Spanyol itu merupakan manajer dengan masa kerja terpanjang di Premier League setelah ditunjuk Arsenal pada Desember 2019.
Ia membawa Arsenal kembali menjadi penantang gelar sebelum akhirnya mengakhiri penantian 22 tahun klub untuk merebut trofi Premier League pada musim 2025/26.
Posisi Arteta berbeda dengan kebanyakan pelatih saat ini. Arsenal memberinya ruang untuk membangun skuad dalam jangka panjang. Struktur klub kemudian menjadikan perannya berkembang menjadi manajer dengan pengaruh lebih luas terhadap keputusan sepak bola.
Di klub seperti Brentford dan Brighton, pendekatannya berbeda. Keith Andrews dan Fabian Hurzeler bekerja dalam sistem klub dengan struktur rekrutmen serta gaya bermain yang sudah dirancang secara lebih luas.
Dengan model ini, pergantian pelatih tidak otomatis berarti klub harus membangun ulang seluruh sistem.
Manchester City berada dalam posisi relatif stabil bersama Enzo Maresca. Setelah menggantikan Pep Guardiola, Maresca membawa City tetap kompetitif di awal musim. Dengan ambisi bersaing di Liga Inggris dan Liga Champions, perubahan besar dalam waktu dekat bukan menjadi isu utama.
Liverpool memberikan konteks menarik. Andoni Iraola menggantikan Arne Slot setelah perubahan besar di kursi manajer. Meski strategi transfer musim panas menimbulkan sejumlah pertanyaan, klub tampaknya sedang berada dalam fase pembangunan kembali sehingga hasil awal belum menjadi satu-satunya ukuran.
Situasi berbeda terlihat di Aston Villa. Unai Emery merupakan salah satu pelatih paling berpengalaman di Liga Inggris. Sebelumnya ia membawa Villa mencapai posisi keempat. Namun, perombakan besar skuad pada musim panas berdampak pada awal musim yang sulit bagi timnya.
David Moyes di Everton menghadapi konteks berbeda. Everton sempat berjuang menghindari degradasi, tetapi performa mereka berada lebih dekat dengan rata-rata kompetisi.
Daniel Farke di Leeds United dan Regis Le Bris di Sunderland memiliki modal masa kerja serta perkembangan tim sehingga tekanan kepada mereka relatif lebih rendah.
Di Bournemouth, Marco Rose menghadapi tantangan berbeda. Tiga poin dari empat pertandingan menjadi awal sulit, tetapi performa tim dalam sejumlah indikator permainan masih memberikan alasan untuk percaya hasil dapat berubah jika proses permainan tetap berjalan.
Newcastle United bersama Matthias Jaissle juga belum menunjukkan konsistensi penuh. Namun, tekanan jangka pendek kepada pelatih belum menjadi persoalan utama selama Newcastle tidak terseret ke pertarungan zona degradasi.
Sergej Jakirovic justru membawa cerita berbeda bersama Hull City. Klub promosi itu meraih hasil mengejutkan pada awal musim, termasuk kemenangan atas Manchester United. Jakirovic bahkan kemudian dinobatkan sebagai Manager of the Month untuk Agustus setelah membawa Hull meraih dua kemenangan dari dua pertandingan.
Michael Carrick berada di area lebih rumit. Manchester United memang memiliki sejumlah indikator permainan positif, tetapi baru mengumpulkan empat poin dari empat pertandingan.
Ditambah beban bermain di Liga Champions, tekanan kepada Carrick berpotensi meningkat apabila hasil tidak segera mengikuti performa permainan.
Chelsea bersama Xabi Alonso juga belum sepenuhnya aman dari sorotan. Alonso memang menandatangani kontrak hingga 2030 dan mengawali masa kerjanya dengan hasil positif.
Namun, struktur kepemilikan Chelsea menjadikan stabilitas posisi manajer menjadi salah satu pertanyaan menarik sepanjang musim.
Nottingham Forest bersama Oliver Glasner menghadirkan situasi lain. Permainan mereka cukup menjanjikan, tetapi karakter kepemilikan klub membuat hasil buruk beruntun berpotensi meningkatkan tekanan dengan cepat.
Di Fulham, Alvaro Arbeloa menghadapi pekerjaan berat setelah memulai musim dengan hasil buruk. Ia masih membangun reputasi sebagai pelatih di level Premier League, sehingga hasil pertandingan akan menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana masa depannya.
Crystal Palace bersama Pierre Sage harus segera menemukan solusi defensif.
Sementara itu, Tottenham Hotspur di bawah Roberto De Zerbi belum meraih kemenangan maupun mencetak gol dalam empat pertandingan awal. Kondisi itu meningkatkan tekanan kepada pelatih asal Italia meski ia memiliki kontrak jangka panjang.
Di posisi paling sulit dalam analisis adalah Frank Lampard bersama Coventry City. Tim promosi itu belum mendapatkan poin maupun mencetak gol setelah empat pertandingan, sehingga Lampard menghadapi awal musim yang sangat berat.
Meski demikian, daftar kursi panas bukanlah kepastian mengenai siapa yang akan kehilangan pekerjaan. Premier League telah menunjukkan berkali-kali bahwa situasi dapat berubah hanya dalam beberapa pekan melalui kemenangan beruntun, perubahan performa, atau keputusan strategis dari manajemen klub.(ESPN)











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!