ID EN

28 Klub Super League hingga Liga 4 Tunggak Gaji Pemain Rp14,8 Miliar

Selasa, 1 September 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Ilustrasi sepak bola
Ilustrasi sepak bola.. Foto: Canva

Persoalan tunggakan gaji masih menjadi pekerjaan rumah besar sepak bola Indonesia menjelang bergulirnya kompetisi musim baru. Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mengungkap 28 klub dari Liga 1 hingga Liga 4 masih memiliki kewajiban pembayaran gaji kepada pemain dengan nilai total mencapai sekitar Rp14,8 miliar.

Legal APPI Mohammad Agus Riza Hufaida mengatakan, tunggakan mencakup kasus yang dilaporkan kepada APPI maupun perkara dengan putusan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) tetapi belum dilaksanakan.

"Total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian," ujar Legal APPI Mohammad Agus Riza Hufaida di Kantor I.League, Jakarta.

Angka itu menunjukkan masalah kesejahteraan pemain masih terjadi di berbagai jenjang kompetisi, bukan hanya di kasta teratas.

303 Pemain Menjadi Pihak Terdampak

Sedikitnya 303 pemain terkait dengan kasus tunggakan 28 klub itu. Klub-klub yang masuk dalam daftar APPI berasal dari berbagai level kompetisi. 

Daftarnya meliputi PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.

Bagi APPI, persoalan itu bukan sekadar urusan administrasi klub. Pembayaran gaji merupakan hak dasar pemain yang seharusnya dipenuhi setelah mereka menjalankan kewajibannya di lapangan.

Riza berharap seluruh klub segera menyelesaikan persoalan tersebut.

"Dan hak pemain ini, ya kalau ada hadis yang bilang bahwa bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering," katanya.

APPI Minta Ada Sanksi Tegas

APPI berharap kasus serupa tidak kembali terjadi pada musim kompetisi berikutnya yang akan segera dimulai.

Menurut Riza, klub yang masih memiliki masalah dengan kewajiban kepada pemain semestinya mendapatkan konsekuensi tegas, termasuk mempertimbangkan kelayakan mereka untuk mengikuti kompetisi.

"Dan soal bagaimana kemudian tidak ada permasalahan gaji, sebenarnya mungkin beberapa tahun sebelumnya kami sudah berulang kali menyampaikan mitigasi-mitigasinya, termasuk soal zero tolerance terkait dengan klub lisensi tadi," katanya.

Menurut Riza, mekanisme mitigasi sebenarnya sudah berulang kali disampaikan. Persoalannya adalah bagaimana aturan diterapkan secara konsisten sehingga masalah tunggakan gaji tidak terus berulang.

Tiga Klub Super League Musim Lalu Bermasalah

Riza mengungkapkan persoalan tunggakan gaji masih terjadi bahkan di level tertinggi.

Pada musim lalu, terdapat tiga klub Super League masih memiliki persoalan gaji pemain, yaitu PSBS Biak, PSM Makassar, dan Semen Padang.

Kasus PSBS Biak menjadi perhatian khusus Riza. Menurutnya, persoalan itu sebenarnya sudah muncul cukup jauh sebelum kompetisi musim lalu berakhir dan semestinya dapat diantisipasi.

Namun, hingga kini hak pemain PSBS Biak yang menjadi bagian dari kasus tersebut disebut masih belum dibayarkan.

Situasi itu menunjukkan persoalan tunggakan gaji bukan hanya muncul karena kondisi klub setelah kompetisi berakhir. Mekanisme pengawasan sejak masalah mulai muncul juga menjadi bagian penting untuk mencegah persoalan semakin besar.

Membawa Liga Naik Kelas Dimulai dari Hak Pemain

Wacana meningkatkan kualitas kompetisi sepak bola Indonesia terus digaungkan. Namun, menurut APPI, peningkatan level liga tidak akan berarti banyak jika persoalan mendasar mengenai hak pemain masih terjadi.

Riza menilai pembayaran gaji seharusnya menjadi standar minimum yang sudah tidak boleh dipermasalahkan, terutama pada kompetisi kasta teratas.

"Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu, masih menjadi problem," katanya.

Karena itu, APPI berharap persoalan tunggakan gaji dapat benar-benar diselesaikan dan tidak menjadi cerita berulang setiap musim.

"Harusnya sudah kita tinggalkan beberapa tahun lalu. Dan ke depan ini harus sudah harus enggak boleh terjadi, minimal Liga 1, jangan sampai terjadi. Ini yang paling penting," pungkasnya.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!