Robot di Arena Olahraga: Sekadar Pertunjukan atau Awal Era Baru?
Senin, 31 Agustus 2026 | 17:00
Penulis: Rojes Saragih

Beijing - Sebuah robot humanoid melepaskan tendangan tinggi di dalam ring. Lawannya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke matras, sementara robot yang menyerang tetap berdiri sebelum pertarungan kembali berlangsung.
Pukulan dan tendangan bergantian dilepaskan. Sesekali terdengar benturan keras dari tubuh mesin yang saling berhadapan, menghadirkan pemandangan yang sekilas seperti adegan film fiksi ilmiah.
Namun, pertarungan itu berlangsung di arena olahraga sungguhan.
Adegan itu merupakan bagian dari World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026, kompetisi olahraga robot humanoid yang digelar 22–26 Agustus 2026 di National Speed Skating Oval atau Ice Ribbon, Beijing, China.
Ajang edisi kedua ini mempertemukan 2.056 robot dari 666 tim yang mewakili 16 negara, dengan 51 nomor dan 1.301 pertandingan.
Robot-robot itu bertanding dalam berbagai cabang, mulai dari atletik, sepak bola, kickboxing dan senam hingga angkat beban serta kompetisi berbasis skenario pekerjaan nyata.
Di arena lain, misalnya, robot humanoid bermain sepak bola 5v5. Mereka mengejar bola, mencari posisi, menendang dan mencoba bekerja sama dengan rekan setim.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Robot tidak cukup hanya memiliki kaki yang dapat bergerak. Mereka harus memahami apa yang dilihat, menentukan tindakan dan kemudian mengubah keputusan tersebut menjadi gerakan.
Peserta asal Indonesia, Maharaj Faawwaz A Yusran, merasakan langsung tantangan itu ketika bergabung dengan tim Malaysia pada nomor sepak bola 5v5 kategori robot besar.
Timnya menggunakan Booster T2 dan memprogram robot agar dapat bergerak secara otonom selama pertandingan.
“Jadi tantangannya bagaimana si robot bisa mencari bola, kemudian juga bisa menendang dengan cepat dan akurat, serta bagaimana robot-robot itu bisa saling berkomunikasi,” kata Faawwaz, dikutip Antara, 30/08/2026.

Sumber: Antara/Desca Lidya Natalia
Dari ring kickboxing hingga lapangan sepak bola, WHRG 2026 menunjukkan bahwa kompetisi ini bukan sekadar pertunjukan untuk memperlihatkan robot yang mampu meniru gerakan manusia.
Yang sebenarnya sedang diuji adalah seberapa baik robot dapat menggunakan tubuhnya untuk menghadapi situasi yang terus berubah.
Ketika Robot Mengejar Kecepatan Manusia
Perhatian terbesar selama kompetisi datang dari lintasan 100 meter.
Pada final kategori robot besar, sebuah robot mencatat waktu 8,64 detik, lebih cepat daripada rekor dunia 100 meter manusia milik Usain Bolt, 9,58 detik.
Catatan itu sekaligus menjadi rekor terbaru dalam kompetisi robot setelah sebelumnya waktu 9,39 detik dan 8,86 detik dicatat dalam tahapan berbeda pada ajang yang sama.
Tetapi robot tidak berlari dengan mekanisme tubuh manusia.
Usain Bolt menghasilkan kecepatannya melalui kombinasi otot, tendon, teknik start, panjang langkah dan frekuensi langkah. Robot mengandalkan motor listrik, aktuator, sensor dan perangkat lunak untuk mengendalikan gerakan.
Dalam analisis Reuters, robot yang mencatat 8,64 detik menggunakan lebih dari 50 langkah untuk menempuh 100 meter, sedangkan Bolt membutuhkan sekitar 41 langkah ketika mencatat rekor dunia. Robot tersebut juga memulai dari posisi berdiri, bukan dari starting block.
Perbedaan itu membuat pencapaian tersebut lebih menarik daripada sekadar pertanyaan siapa yang lebih cepat.
Robot tidak sedang menjadi manusia yang lebih cepat. Mereka mulai menemukan cara bergeraknya sendiri.
Namun, setelah garis finis, keterbatasan teknologi itu terlihat jelas. Beberapa robot kehilangan keseimbangan dan menghantam matras pengaman, sementara salah satunya mengeluarkan percikan api hingga petugas harus datang membawa alat pemadam.
Kecepatan ternyata belum sama dengan kendali.

Sumber: Antara/Desca Lidya Natalia
Dari Sprint ke Permainan yang Lebih Rumit
Lari 100 meter memberikan robot lingkungan yang relatif terkontrol. Arah dan jarak sudah diketahui, sedangkan tugas utamanya adalah menghasilkan kecepatan sambil menjaga keseimbangan.
Sepak bola jauh lebih rumit.
Bola bergerak bebas, lawan berubah posisi dan rekan setim mengambil keputusan sendiri. Dalam WHRG 2026, format sepak bola ditingkatkan dari 3v3 pada edisi sebelumnya menjadi 5v5, sehingga tuntutan terhadap persepsi visual, posisi ruang dan koordinasi antarrobot ikut meningkat.
Sebuah robot harus menentukan apakah mengejar bola merupakan keputusan terbaik, apakah harus mengoper, menendang atau mengubah posisi. Ia juga harus memahami keberadaan robot lain di sekitarnya.
Bagi manusia, keputusan seperti itu berlangsung sangat cepat dan sering kali tanpa perhitungan sadar. Bagi robot, seluruh proses tersebut harus diterjemahkan ke dalam sistem yang dapat melihat lingkungan, memproses informasi, memilih tindakan dan menggerakkan tubuh.
Itulah salah satu alasan mengapa robot humanoid saat ini masih banyak berkembang sebagai mesin yang terspesialisasi. Robot yang sangat baik berlari belum tentu piawai bermain sepak bola, sementara robot yang unggul dalam satu gerakan belum tentu mampu menyelesaikan tugas lain yang lebih kompleks.
Tubuh yang Harus Belajar
Persoalan tersebut berkaitan dengan embodied intelligence, yakni kemampuan AI untuk memahami lingkungan melalui tubuh fisiknya, mengambil keputusan dan menerjemahkannya menjadi tindakan.
Manusia melakukan proses tersebut hampir tanpa berpikir. Kita melihat bola, memperkirakan arahnya, memilih tindakan dan menggerakkan tubuh dalam hitungan detik.
Robot harus mempelajari seluruh rangkaian itu melalui kombinasi sensor, perangkat keras dan perangkat lunak.
Tantangan berikutnya adalah membuat kemampuan tersebut tetap bekerja ketika kondisi berubah. Bola tidak selalu datang dari arah yang sama, lawan tidak selalu mengambil posisi yang sama dan lingkungan pertandingan tidak pernah sepenuhnya identik dengan latihan.
Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu ukuran penting perkembangan robot humanoid.

Sumber: Antara/Desca Lidya Natalia
Ketika Arena Menjadi Laboratorium
WHRG 2026 tidak hanya menguji kemampuan robot sebagai atlet. Kompetisi ini juga memasukkan 21 nomor berbasis skenario nyata yang mencakup sembilan bidang, antara lain rumah tangga, perhotelan, industri, penyelamatan darurat, logistik, perpustakaan, ritel dan layanan perkantoran.
Robot dinilai berdasarkan kemampuannya menyelesaikan tugas secara mandiri. Artinya, pertandingan tidak lagi hanya bertanya apakah robot dapat melakukan suatu gerakan, tetapi apakah robot dapat menyelesaikan pekerjaan ketika berhadapan dengan lingkungan yang lebih kompleks.
Di sinilah arena olahraga berubah menjadi semacam laboratorium terbuka.
Robot harus bergerak dalam batas waktu, menghadapi gangguan, mengambil keputusan dan memperlihatkan kegagalannya secara langsung. Setiap kesalahan menunjukkan batas teknologi, sementara setiap keberhasilan memberikan petunjuk tentang kemampuan yang mungkin dikembangkan lebih jauh.

Sumber: Antara/Desca Lidya Natalia
Sekadar Pertunjukan atau Awal Era Baru?
Mungkin masih terlalu dini untuk menyebut WHRG sebagai awal era baru olahraga.
Robot humanoid masih memiliki banyak keterbatasan. Mereka dapat menghasilkan performa luar biasa dalam tugas tertentu, tetapi belum mampu menggabungkan berbagai kemampuan dengan fleksibilitas seperti manusia.
Namun, sulit pula menganggap kompetisi ini hanya sebagai pertunjukan.
Selama lebih dari satu abad, olahraga digunakan manusia untuk mengukur batas tubuhnya sendiri: seberapa cepat berlari, seberapa tinggi melompat, atau seberapa kuat mengangkat beban.
Kini mesin mulai masuk ke arena yang sama.
Bedanya, robot tidak memiliki batas biologis seperti manusia. Mereka memiliki batas lain—baterai, motor, sensor, perangkat lunak, keseimbangan dan kemampuan mengambil keputusan—yang juga dapat berubah seiring perkembangan teknologi.
Karena itu, catatan 8,64 detik mungkin bukan bagian terpenting dari cerita ini. Rekor tersebut suatu hari akan terpecahkan lagi.
Yang lebih menarik adalah proses di belakangnya: robot sedang belajar menggunakan tubuh, memahami lingkungan dan berkompetisi dengan semakin mandiri.
Untuk saat ini, kita masih bisa menyebutnya pertunjukan.
Tetapi jika mesin terus belajar bagaimana bergerak, bertanding dan beradaptasi, arena olahraga mungkin sedang menjadi tempat lahirnya bentuk kompetisi yang belum pernah kita kenal sebelumnya.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!