Jangan Asal Pilih Kursi, Ini Cara Pramugari Membuat Waktu Tidur di Pesawat Lebih Nyaman
Senin, 14 September 2026 | 16:00
Penulis: Respaty Gilang

Tidur selama penerbangan mungkin terdengar sederhana. Tinggal memejamkan mata, menyandarkan kepala, lalu menunggu pesawat tiba di tujuan. Namun bagi banyak traveler, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Suara mesin, cahaya kabin, posisi duduk yang terbatas, penumpang yang lalu-lalang hingga perbedaan zona waktu bisa membuat waktu istirahat di pesawat jauh dari kata nyaman.
Padahal, kemampuan tidur selama perjalanan udara bisa sangat membantu, terutama ketika harus menjalani penerbangan jarak jauh. Traveler yang tiba dalam kondisi lebih segar tentu akan lebih siap menjelajahi destinasi tanpa harus menghabiskan hari pertama untuk memulihkan tenaga.
BACA JUGA
Pramugari Ungkap Alasan Penumpang Sebaiknya Tak Pakai Celana Pendek di Pesawat
Pramugari Virgin Atlantic Bongkar Tips Memilih Kursi Terbaik di Pesawat
Catat Nih! Checklist Esensial Buat yang Sering Traveling untuk Bisnis
Menariknya, awak kabin yang menghabiskan banyak waktu di udara ternyata memiliki sejumlah strategi tersendiri untuk mendapatkan waktu istirahat yang lebih berkualitas.
Katie Storck, awak kabin Southwest Airlines yang telah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun, membagikan sejumlah kebiasaan yang dapat membantu penumpang tidur lebih nyaman selama penerbangan. Tips tersebut ia sampaikan berdasarkan pengalaman pribadinya, seperti dikutip dari Southern Living.
Mulai dari Pakaian yang Tepat
Salah satu hal yang sering dianggap sepele ketika bepergian ternyata bisa memengaruhi kenyamanan saat ingin tidur, yakni pakaian.
Storck menyarankan traveler mengenakan pakaian berlapis ketika berada di pesawat. Cara ini memungkinkan penumpang menyesuaikan pakaian dengan perubahan suhu di dalam kabin tanpa harus merasa terlalu panas atau kedinginan.
Bagi traveler yang akan melakukan penerbangan panjang, pakaian yang nyaman sebaiknya menjadi prioritas dibanding sekadar mengejar penampilan. Celana yang tidak terlalu ketat, bahan yang nyaman dan lapisan pakaian tambahan bisa membuat tubuh lebih mudah rileks.
Jangan Hanya Mengandalkan Bantal Leher
Selain pakaian, perlengkapan kecil yang dibawa ke kabin juga bisa menentukan kualitas tidur.
Andrea Davis, awak kabin Delta yang berbasis di Atlanta, Georgia, mengandalkan masker mata berbobot untuk membantu mengurangi paparan cahaya ketika beristirahat.
"Butiran pemberat di dalam masker mata dapat membantu Anda lebih cepat terlelap, terutama saat harus menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda selama perjalanan," ungkapnya.
Bagi traveler yang sering berpindah negara atau melakukan penerbangan malam, masker mata bisa menjadi salah satu perlengkapan yang cukup berguna. Cahaya dari layar, lampu kabin maupun aktivitas penumpang lain dapat diminimalkan sehingga lingkungan tidur terasa lebih konsisten.
Telinga Juga Perlu "Dimatikan"
Menciptakan suasana tenang di dalam pesawat bukan perkara mudah. Karena itu, gangguan suara juga perlu diperhatikan.
Earplug, earbud, headphone, maupun penutup telinga dapat digunakan untuk meredam suara sekitar. Sebagian traveler bahkan memilih menggunakan headphone sambil memutar musik dengan volume yang nyaman agar lebih mudah mengabaikan suara kabin.
Jika menggunakan perangkat elektronik, sebaiknya siapkan juga konten yang tidak terlalu merangsang perhatian. Musik dengan tempo tenang atau audio yang familiar bisa menjadi pilihan dibandingkan konten yang membuat kita terus ingin mengikuti ceritanya.
Atur Waktu Tidur, Jangan Sekadar Memejamkan Mata
Untuk penerbangan internasional, persoalan tidur sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan. Waktu tidur juga berhubungan dengan upaya tubuh beradaptasi terhadap zona waktu baru.
Jika ingin mengurangi dampak jet lag, traveler dapat mulai menyesuaikan jadwal tidur dengan waktu di destinasi. Pada penerbangan tertentu, menahan diri untuk tidak langsung tidur setelah naik pesawat dapat membantu menyesuaikan waktu istirahat dengan jadwal di tempat tujuan.
Setelah waktunya tiba, gunakan kesempatan tersebut untuk tidur secara strategis.
"Beberapa pelancong mengandalkan suplemen melatonin atau teh yang menenangkan tubuh. Namun, hindari alkohol dan kafein, karena keduanya dapat mengganggu waktu istirahat Anda," jawab Storck.
Traveler juga perlu berhati-hati dengan kopi sebelum penerbangan. Minuman yang biasanya membantu tetap terjaga justru bisa menjadi pengganggu ketika tubuh sudah membutuhkan istirahat.
Kursi Jendela Punya Keuntungan Tersendiri
Pilihan kursi ternyata juga bisa menentukan seberapa mudah seseorang tertidur di pesawat.
Bagi traveler yang memang berencana tidur, kursi dekat jendela memiliki keuntungan karena tubuh dapat bersandar ke sisi pesawat. Posisi ini juga mengurangi kemungkinan terganggu penumpang lain yang ingin keluar dari kursinya untuk pergi ke toilet.
Sebaliknya, kursi lorong memberikan kemudahan untuk keluar-masuk tanpa mengganggu penumpang lain. Jadi, pilihan terbaik tetap bergantung pada prioritas masing-masing traveler.
Jika tidur adalah prioritas utama, kursi jendela layak dipertimbangkan.
"Menopang leher saat tidur dalam posisi duduk tegak dapat membantu Anda mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan," kata Storck.
Bantal leher bisa menjadi perlengkapan tambahan, terutama untuk penerbangan beberapa jam. Namun, pilih model yang benar-benar menopang kepala dan leher, bukan sekadar terlihat nyaman ketika digunakan.
Ada satu trik sederhana agar tidak dibangunkan awak kabin. Traveler yang ingin tidur selama penerbangan juga perlu memperhatikan posisi sabuk pengaman.
Storck menyarankan agar sabuk pengaman tetap terpasang dan terlihat di luar selimut. Tujuannya sederhana: awak kabin dapat melihat bahwa penumpang sudah mengenakan sabuk tanpa perlu membangunkannya untuk melakukan pemeriksaan.
Hal ini juga menjadi pengingat bahwa sabuk pengaman tetap penting meskipun tanda kenakan sabuk pengaman sedang tidak menyala.
Buat "Ritual Tidur" Sendiri
Satu strategi lain yang menarik adalah membawa kebiasaan sebelum tidur dari rumah ke dalam pesawat.
Jika biasanya menggunakan masker mata, mendengarkan podcast atau menikmati minuman tertentu sebelum tidur, rutinitas tersebut bisa diterapkan sebelum mencoba tidur di kabin.
Tubuh akan lebih mudah mengenali pola yang familiar ketika waktunya beristirahat.
"Memastikan diri Anda merasa senyaman mungkin akan membantu Anda lebih rileks dan tidur lebih nyenyak," ujar Storck.
Pada akhirnya, tidur di pesawat bukan hanya soal memejamkan mata. Pakaian, posisi kursi, cahaya, suara, waktu tidur hingga kebiasaan sebelum tidur semuanya bisa berpengaruh terhadap pengalaman istirahat selama penerbangan.
Bagi traveler yang akan menjalani penerbangan jarak jauh, mempersiapkan perlengkapan tidur sejak sebelum berangkat bisa menjadi investasi kecil untuk membuat perjalanan terasa jauh lebih nyaman.
Dan ketika pesawat akhirnya mendarat, energi yang tersisa bisa langsung digunakan untuk hal yang lebih menyenangkan: menjelajahi destinasi baru.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!