Real Madrid vs Inter Milan: Mourinho, Chivu, dan Pertarungan Melawan Masa Lalu
Selasa, 8 September 2026 | 11:53
Penulis: Rojes Saragih

Santiago Bernabeu pernah menjadi tempat Jose Mourinho mencapai salah satu puncak kariernya.
Pada 22 Mei 2010, pelatih asal Portugal itu membawa Inter Milan mengalahkan Bayern Muenchen 2-0 di stadion itu. Dua gol Diego Milito memastikan trofi Liga Champions sekaligus menyempurnakan treble Inter: Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.
Cristian Chivu berada di lapangan malam itu.
BACA JUGA
Jose Mourinho Buka Peluang Latih Juventus, Sikapnya Berubah 15 Tahun Setelah Era Inter
Jose Mourinho Menolak Dikaitkan dengan 'Sinetron' Kursi Pelatih Real Madrid
Menuju Garis Finis: Adu Mental Final UCL, Hitungan Juara EPL, dan Persija Sang Penentu Nasib
Kini, 16 tahun kemudian, Mourinho kembali ke Bernabeu untuk menghadapi Inter. Real Madrid vs Inter Milan akan berlangsung pada Rabu (9/9/2026) pukul 02.00 WIB dalam matchday pertama league phase Liga Champions 2026/2027.
Mourinho berada di sisi Real Madrid. Di kubu seberang berdiri Chivu, mantan pemainnya yang kini menjadi pelatih Inter.
Ada terlalu banyak sejarah di antara mereka untuk diabaikan. Namun Mourinho justru tidak ingin pertandingan ini dibebani masa lalu.
"Di Inter, mereka melihat saya sebagai teman, tidak diragukan lagi," kata Mourinho menjelang pertandingan. Namun selama pertandingan, situasinya akan berbeda. Ia datang sebagai pelatih Real Madrid dan ingin memenangkan pertandingan.
Mourinho bahkan mengatakan akan senang memeluk Chivu sebelum dan sesudah pertandingan.
"Tetapi tidak selama pertandingan."
Kalimat itu mungkin menjadi cara paling sederhana untuk memahami pertemuan Real Madrid dan Inter kali ini.
Ada sejarah. Ada persahabatan. Ada satu malam legendaris pada 2010.
Tetapi ketika pertandingan dimulai, semua itu harus disingkirkan.
Sebab Inter yang datang ke Bernabéu bukan lagi Inter milik Mourinho.
Dan Chivu tidak sedang mencoba menghidupkan kembali tim tersebut.
Mourinho: Menang Lebih Penting daripada Bermain Indah
Real Madrid memasuki Liga Champions dengan sedikit gangguan.
Tiga hari sebelum menghadapi Inter, Los Blancos kalah 0-1 dari Real Betis. Namun hasil tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan.
Madrid menciptakan sejumlah peluang. Mereka tiga kali membentur tiang atau mistar. Kylian Mbappé juga gagal mengeksekusi penalti setelah tendangannya dari titik putih diselamatkan kiper Betis.
Tidak lama kemudian, Madrid sempat mencetak gol melalui Espí. Namun gol tersebut dianulir karena offside.
Dominasi akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Madrid pulang tanpa gol dan tanpa poin.
Bagi Mourinho, pelajarannya sederhana: permainan bagus tidak cukup jika tidak berujung kemenangan.
"Saya ingin menang. Saya bisa saja mengatakan ingin bermain bagus, tetapi saya tidak ingin bermain bagus seperti saat melawan Betis dan kalah; saya ingin menang," kata Mourinho dalam laman Real Madrid, dikutip Selasa, 8/9/2026.
Pernyataan tersebut terasa sangat Mourinho.
Permainan bagus boleh menjadi sarana. Kemenangan tetap menjadi tujuan.
Apalagi Liga Champions musim ini memberikan delapan pertandingan kepada setiap tim pada league phase. Mourinho tidak ingin memandang laga melawan Inter sebagai satu dari delapan kesempatan yang masih bisa dikompensasi pada pertandingan berikutnya.
Ia ingin memenangkannya sekarang.
"Saya ingin menganggap pertandingan ini sebagai pertandingan tunggal, bukan pertandingan yang masih menyisakan tujuh laga lagi. Saya ingin menang," ujarnya.
Secara matematis, pertandingan ini memang baru awal.
Secara psikologis, Mourinho tidak ingin memperlakukannya demikian.
Di Seberangnya Ada Chivu
Chivu datang ke Bernabéu dengan pendekatan yang berbeda.
Ia memahami betapa sulitnya bermain di stadion itu. Inter hanya sekali menang di kandang Madrid dalam lima pertemuan European Cup/Liga Champions yang tercatat dalam rangkaian 13 pertemuan kedua tim.
Kemenangan itu terjadi pada perempat final 1966/67, ketika Inter menang 2-0.
Setelah itu, Bernabéu menjadi tempat yang jauh lebih bersahabat bagi Madrid.
Namun Chivu tidak ingin fakta sejarah membuat Inter bermain dengan rasa takut.
Ia meminta pemainnya tampil dengan keberanian, kepribadian, dan keinginan untuk mendominasi pertandingan. Inter tidak akan meninggalkan identitasnya hanya karena lawan yang dihadapi adalah Real Madrid.
Itu menjadi salah satu pertanyaan terbesar menjelang pertandingan.
Apakah Inter berani bermain dengan cara yang diinginkan Chivu ketika berhadapan dengan Madrid di Bernabéu?
Jawabannya akan jauh lebih berarti daripada sekadar hasil pertandingan pertama.
Sebab Chivu sedang mencoba membangun sesuatu yang baru.
Dan ia sangat sadar bahwa ia tidak bisa selamanya hidup dari bayang-bayang Mourinho.
Mourinho pernah menjadi pelatihnya. Ia adalah sosok yang membawa Inter ke puncak Eropa pada 2010 dan seseorang yang menurut Chivu memberikan dukungan besar ketika melalui masa sulit dalam hidupnya.
Namun ketika ditanya mengenai pengaruh Mourinho terhadap filosofi sepak bolanya, Chivu menolak melihat dirinya sebagai murid yang sekadar meneruskan gurunya.
Ia mengatakan tidak pernah meniru siapa pun. Filosofinya dibentuk oleh pengalaman sebagai pemain dan bertahun-tahun bekerja di sektor pembinaan.
Mourinho adalah bagian dari perjalanan Chivu.
Tetapi bukan cetak biru sepak bolanya.
Inter Harus Menulis Cerita Sendiri
Itulah yang membuat Bernabéu menjadi lebih dari sekadar stadion dalam pertandingan ini.
Tempat ini menyimpan sejarah Inter, tetapi Chivu tidak ingin timnya terus hidup dari sejarah tersebut.
Pada 2010, Inter menulis salah satu halaman terbesar dalam sejarah klub.
Sekarang generasi berbeda harus menulis halaman mereka sendiri.
Chivu menolak membandingkan timnya dengan Inter 2010. Menurutnya, 16 tahun telah berlalu dan sepak bola sudah berubah.
Tim Mourinho telah menulis sejarahnya.
Inter sekarang harus menulis sejarah mereka sendiri.
Tugas tersebut menjadi semakin penting karena perjalanan Inter di Liga Champions dalam beberapa musim terakhir meninggalkan dua jenis luka.
Mereka mencapai final pada 2023 dan 2025, tetapi gagal mengangkat trofi.
Pada 2023, Manchester City menghentikan mereka.
Dua tahun kemudian, Paris Saint-Germain memberikan luka yang jauh lebih dalam. Inter kalah 0-5 di final, kekalahan dengan margin terbesar dalam sejarah final European Cup/Liga Champions.
Musim berikutnya bahkan tidak membawa mereka kembali ke fase gugur.
Inter disingkirkan Bodo/Glimt pada play-off setelah kalah 1-3 di Norwegia dan 1-2 di Milan.
Karena itu, Liga Champions 2026/2027 bukan sekadar kesempatan untuk mengejar trofi.
Ini juga menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa Inter masih mampu bersaing di level tertinggi Eropa.
Chivu tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut dengan janji.
Ia ingin menjawabnya di lapangan.
Lautaro: Target, Bukan Obsesi
Lautaro Martinez memahami tekanan ini.
Kapten Inter itu sudah mengalami final Liga Champions, kemenangan besar, kekalahan menyakitkan, dan musim Eropa yang berakhir terlalu cepat.
Tetapi ia tidak ingin menjadikan trofi Eropa sebagai beban.
"Ini adalah sebuah target. Kami semua bermimpi, tetapi ini bukan sebuah obsesi," kata Lautaro.
Kalimat itu menarik karena menggambarkan cara Inter memandang kompetisi ini.
Mereka menginginkan trofi.
Mereka ingin kembali menjadi juara Eropa.
Namun mereka tidak ingin mengejarnya dengan menjadikan setiap pertandingan sebagai pertandingan hidup-mati.
Bagi Lautaro, proses tetap penting. Inter harus belajar dari kesalahan musim lalu dan terus berkembang.
Setidaknya, mereka datang ke Madrid dengan modal domestik yang cukup baik.
Inter memenangkan tiga pertandingan Serie A pertama musim ini. Pada pertandingan terakhir sebelum menghadapi Madrid, mereka bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Napoli 3-2.
Lautaro mencetak dua gol.
Tetapi bagi sang kapten, kontribusi individual tetap berada di bawah kepentingan tim.
Dan itu sejalan dengan gambaran Inter yang ingin dibangun Chivu.
Bukan tim yang bergantung pada satu pemain.
Bukan pula tim yang hidup dari nostalgia.
Melainkan tim yang sedang mencari bentuk barunya.
Sejarah Pertemuan Lebih Memihak Madrid
Jika sejarah dijadikan petunjuk, tugas Inter tetap berat.
Real Madrid dan Inter telah bertemu 13 kali di European Cup/Liga Champions.
Madrid memenangkan tujuh pertandingan, Inter lima, dan satu laga berakhir imbang. Agregat gol juga berpihak kepada Madrid, 16-13.
Pertemuan pertama mereka bahkan terjadi di final.
Pada musim 1963/64, Inter mengalahkan Real Madrid 3-1 dan menjadi juara Eropa.
Lebih dari setengah abad kemudian, Madrid membalikkan dominasi tersebut.
Pertemuan terakhir terjadi pada league phase 2021/2022. Madrid menang 1-0 di San Siro dan kembali menang 2-0 di Bernabeu.
Itu berarti Madrid memenangkan empat pertemuan terakhir melawan Inter:
Real Madrid 3-2 Inter — 2020
Inter 0-2 Real Madrid — 2020
Inter 0-1 Real Madrid — 2021
Real Madrid 2-0 Inter — 2021
Inter gagal mencetak gol dalam tiga dari empat pertandingan tersebut.
Madrid juga memenangkan enam dari tujuh pertemuan terakhir kedua tim secara keseluruhan.
Namun ada satu detail yang membuat pertandingan ini menarik.
Inter pernah menang di Bernabeu.
Pada 1966/67, mereka mengalahkan Madrid 2-0 pada leg kedua perempat final European Cup. Kemenangan itu sudah berjarak sekitar enam dekade.
Jadi, jika berbicara tentang sejarah panjang, Inter memiliki alasan untuk percaya diri.
Jika berbicara tentang sejarah terbaru, Madrid jauh lebih dominan.
Dan jika berbicara tentang Bernabéu, hampir seluruh sejarah modern berpihak kepada tuan rumah.
Madrid Juga Membawa Tekanan Sendiri
Namun Madrid tidak datang dengan posisi sempurna.
Kekalahan dari Betis membuat Mourinho harus segera menemukan respons. Terlebih lagi, ia sendiri mengakui para pemainnya kelelahan setelah pertandingan tersebut.
Menurut Mourinho, para pemain sudah pulih dalam latihan dan berada dalam kondisi normal menjelang menghadapi Inter.
Tetapi ada satu persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemulihan fisik: kemampuan mengubah peluang menjadi gol.
Melawan Betis, Madrid menguasai pertandingan tetapi gagal mencetak gol.
Melawan Inter, kesalahan serupa bisa jauh lebih mahal.
Inter memiliki kualitas untuk menghukum lawan yang gagal memanfaatkan peluang.
Maka, pertandingan ini juga menjadi ujian bagi prinsip Mourinho sendiri.
Ia tidak ingin sekadar bermain bagus.
Ia ingin menang.
Pertanyaannya adalah apakah Madrid mampu mendapatkan kemenangan tanpa harus mengorbankan kualitas permainan yang membuat mereka begitu dominan saat menghadapi Betis.
Dua Filosofi Bertemu di Bernabeu
Pada akhirnya, pertandingan ini mempertemukan dua kebutuhan yang berbeda.
Mourinho membutuhkan respons. Chivu membutuhkan pembuktian.
Madrid ingin memulai Liga Champions dengan kemenangan setelah kekalahan dari Betis. Inter ingin menunjukkan bahwa mereka bukan lagi tim yang terjebak dalam kegagalan final 2025 atau tersingkirnya mereka dari Bodo/Glimt.
Mourinho berbicara tentang hasil. Chivu berbicara tentang keberanian dan identitas. Lautaro berbicara tentang ambisi yang tidak boleh berubah menjadi obsesi.
Ketiganya bertemu di stadion yang memiliki hubungan khusus dengan Inter.
Bernabeu pernah menjadi tempat Mourinho dan Chivu berdiri di sisi yang sama. Sekarang, mereka akan berdiri berseberangan.
Namun yang paling menarik bukan siapa yang membawa masa lalu lebih kuat, melainkan siapa yang mampu meninggalkannya.
Mourinho tidak ingin hidup dari kemenangan 2010. Chivu tidak ingin menjadi Mourinho berikutnya. Inter tidak ingin terus dibandingkan dengan tim treble, sementara Madrid tidak ingin kekalahan dari Betis mengganggu awal perjalanan Eropa mereka.
Belum ada trofi yang dipertaruhkan dan belum ada tim yang akan tersingkir. Tetapi delapan pertandingan league phase akan menentukan siapa yang lolos langsung ke babak 16 besar dan siapa yang harus melewati play-off.
Karena itu, Mourinho tidak mau berpikir tentang tujuh pertandingan setelah Inter. Ia hanya ingin memenangkan pertandingan yang ada di depannya.
Chivu menghadapi tantangan berbeda: membuktikan bahwa Inter bisa tetap menjadi dirinya sendiri di stadion sebesar Bernabéu.
Enam belas tahun lalu, tempat ini menjadi panggung bagi Mourinho dan Chivu untuk menutup perjalanan dengan trofi terbesar Eropa. Kini mereka kembali dengan peran berbeda.
Mourinho ingin menang bersama Madrid. Chivu ingin membangun Inter versinya sendiri. Lautaro ingin membawa Inter kembali ke puncak tanpa membiarkan ambisi berubah menjadi obsesi.
Bernabeu pernah menjadi tempat Inter menutup sebuah era. Kali ini, stadion yang sama bisa menjadi tempat Chivu mulai membangun era berikutnya.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!